Minggu, 02 April 2017



FORUM TBM BANYUMAS : SEMAKIN PRODUKTIF DENGAN MENULIS


PURWOKERTO-Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Banyumas mengadakan kegiatan bertajuk Bedah Buku dan Proses Kreatif Menulis. Kegiatan tersebut diadakan di SD UMP Purwokerto, Ahad (2/4/2017).
Puluhan aktivis literasi yang tergabung dalam forum TBM Kabupaten Banyumas turut hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu berbagai komunitas yang ada di Kabupaten Banyumas, seperti Forum Lingkar Pena dan Komunitas Penulis Artikel Karanglewas juga turut berpartisipasi.
Hadir sebagai pembedah Dimas Indriyanto, penulis yang sekaligus dosen muda IAIN Purwokerto. Indra Devandra, penulis sekaligus penerbit buku turut memeriahkan acara tersebut. Bedah buku kali ini adalah membedah buku yang berjudul Kita Guru yang Dinanti karya bapak Riyadi (penulis sekaligus kepala SDN 1 Kediri, Karanglewas) dan Tomas Utomo (penulis sekaligus guru SD UMP Purwokerto).
Dimas Indriyanto selaku pembedah buku pada kegiatan tersebut mengatakan bahwa menulis bukan merupakan bakat setiap orang. “Menulis itu bukan bakat. Tapi suatu hal yang jika istiqomah melakukannya maka kita akan menjadi penulis hebat,” kata Dimas yang pernah meraih penghargaan sebagai pemuda berprestasi bidang pendidikan seni dan budaya oleh Pemerintah Kabupaten Brebes.
“Jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Tapi tulislah apa yang kau pikirkan,” sambung Indra Devandra yang juga sebagai penulis lagu dan penerbitan buku.
Riyadi juga mengatakan menjadi penulis itu asyik karena bisa berteriak sepuas hati. “Ya, seringkali berteriak pada sesuatu yang ingin disuarakan. Namun tidak mampu tersampaikan secara langsung.” Kata Riadi yang juga sebagai ketua Kompak.
“Teriakan itu bisa berkaitan erat dengan suatu hal yang menjadi momok ketidakadilan. Fenomena ketidaklaziman yang sudah menjadi santapan umum ataupun sebuah pernyataan kritis yang belum terjawab,” sambungnya.
Tomas Utomo menambahkan bahwa menjadi penulis yang sensitif akan membuat lebih mudah untuk mengemas dengan cantik apa yang dilami menjadi sebuah tulisan.  “Seorang penulis memiliki kemampuan untuk membahas perasaannya. Paham betul apa yang sedang dialaminya dan bagaimana mengungkapkan apa yang dirasakan dalam bentuk tulisan,” tutur Totok Utomo, penulis yang sudah mempunyai 5 buku karya miliknya.     
Fajar Pujianto selaku ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan Bedah Buku  dan Proses Kreatif Menulis forum TBM Kabupaten Banyumas merupakan rangkaian kegiatan rutin forum TBM Kabupaten Banyumas. “Ini merupakan kegiatan keenam kalinya semenjak kami dibentuk. Kegiatan ini diharapkan bisa memotivasi para penulis pemula agar lebih kreatif lagi dalam menulis. Selain itu kegiatan ini juga sebagai wujud dedikasi kita terhadap masyarakat,” pungkasnya. (Fajar Pujianto/ Ketua Panitia Bedah Buku dan Proses Kreatif Menulis Forum TBM Kabupaten Banyumas)

Selasa, 29 November 2016

Festival Dongeng TBM Banyumas, Ingatkan Akan Pentingnya Dongeng Bagi Anak






KEBASENForum Taman Bacaan Masyarakat Banyumas menggelar Festival Dongeng TBM Banyumas tahun 2016. Kegiatan ini dilangsungkan pada Minggu, 27 Nopember 2016 di TBM Bina Wacana (PKBM Kalbamas) desa Kalisalak Kecamatan Kebasen.

Heru Kurniawan, Ketua Forum TBM Banyumas menjelaskan bahwa festival dogeng digelar untuk menggaungkan kembali pentingnya dongeng dalam proses tumbuh kembang pada anak-anak ke depan.  Menurutnya, apa yang disampaikan kepada anak melalui cerita-cerita  dongeng itu adalah hal yang mudah dan sederhana bagi semua.
Secara umum, kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan rutinan FTBM Banyumas.
“kami mengadakan kegiatan sebulan 2 kali, yang pertama pertemuan dan silaturrahim dan selajutnya kegiatan-kegiatan pelatihan.” Ungkap usai kegiatan melalui akun facebook pribadinya.
Selain diisi dengan kegiatan parade mendongeng, Festival Dongeng TBM Banyumas juga diisi dengan kegiatan lomba mewarnai dan menggambar, lomba literasi, dan outbound.  Tak tanggung-tanggung, Festival Dongeng Banyumas juga menghadirkan Bunda PAUD Banyumas,  tidak hanya itu, masyarakat dan sekolah di kecamatan Kebasenpun turut berparsipasi dalam kegiatan tersebut.
Menurut kak Soimah (Pengasuh TBM Bina Wacana), kegiatan ini dimeriahkan oleh 14 pendongeng Banyumas dan 1 pendongeng dari Banjarnegara.
“15 pendongeng turut memeriahkan kegiatan ini, diantaranya 14 dari Banyumas sendiri dan satu lagi dari Banjarnegara yaitu kak Wuri dari TBM Ganesha”, ungkapnya.(27/11/2016)



Sabtu, 26 November 2016



TBM Anfat Desa Babakan, Butuh Donasi Buku

0

KBRN, Purwokerto: Hampir setiap sore di grumbul Karangpucung Desa Babakan RT 01 RW 07 Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, dalam satu bulan terakhir tampak berbeda dari sebelumnya.

Sejumlah anak kini tidak lagi bermain dengan bebasnya mereka, sejak ada Taman Bacaan  Masyarakat (TBM) Anfat desa Babakan sebulan yang lalu kini anak-anak mulai diarahkan  kegiatan sorenya sehabis sekolah dan diniyah.

“Kami mempersilahkan bagi adik-adik ataupun orang dewasa untuk membaca buku di sini, bagi yang belum bisa membaca ataupun yang masih tersendat-sendat kami arahkan mereka agar lebih baik lagi dalam membaca, ada juga pelatihan menggambar, menulis dan menghitung bag adik-adik, selain itu ada dari kakak-kakak yang bersedia membacakan  dongeng” ungkap Fajar Pujianto pendiri TBM Anfat desa Babakan, Jumat (4/11/2016).

Kegiatan untuk menumbuh kembangkan minat dan bakat mereka dikemudian hari, salah satu yang sedang dikerjakan latihan sepakbola untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun (U-15) .

Relawan TBM Anfat juga sedang membuat video tentang potenmsi ekonomi dan geografis desa Babakan yang nantinya akan diserahkan kepada kepala desa untuk dinikmati masyarakat.

Relawan yang bergabung di TBM Anfat Desa Babakan  kini ada sekitar 15 remaja.

“Kami juga melatih sepakbola untuk adik-adik di bawah usia 15 tahun (U-15) dan juga penggarapan video tentang kondisi ekonomi dan geografis desa Babakan oleh relawan-relawan TBM Anfat nantinya kita serahkan kepada kepala desa Babakan secara formal”jelasnya.

TMB masih membutuhkan  banyak buku bacaan, pengurus sangat mengharapkan donasi buku dan sarana prasarana yang lain dari para dermawan.

Kegiatan sudah berjalan tapi fasilitas maupun sarana prasarana  belum memadai, kami belum mempunyai rak untuk tempat buku.

“Buku kami taruh di risban (kursi kayu panjang) dan bukunyapun baru 80 eksemplar, maklum kami berdiri tanpa modal dan atas dasar niat ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.”imbuhnya memelas.

Zain Sutrisno salah satu pengunjung TBM Anfat, mengaku senang belajar di sini, diajari cara menggambar juga.

“Tapi sayang, bukunya terbatas dan sedikit jadi kami bingung mau baca apalagi.”ungkapnya polos.